Archive for July, 2008

Siapa yang takut?

Posted in Paradigma on July 31, 2008 by ivanwidyarsa

Someone : “Van, kamu miara uler ya?”

Ivan : “Iya”

Someone : “Kamu ngga takut?”

Ivan : “Ya ngga lah, kalo takut ngapain gw miara” (sambil ketawa)

Ini adalah cuplikan pembicaraan dengan beberapa orang akhir-akhir ini. Beberapa di sini berarti tiga orang atau lebih. Dan semuanya secara garis besar menanyakan hal yang sama, dan saya juga menjawab dengan jawaban yang sama.

Hal ini cukup menarik, karena (menurut saya) pertanyaan tersebut tidak logis. Jika Anda takut anjing, akankah Anda memelihara anjing? Demikian juga dengan ular, kalo saya takut ular, saya tidak akan memelihara ular. Sebuah logika yang cukup mudah bukan? Nah karena itu, jangan pernah berharap seorang Michael Ivan Widyarsa memelihara ayam.

Tapi, kenapa beberapa orang masih menanyakan hal itu?

Menurut saya, pertanyaan tersebut adalah pertanyaan spontan, yang diungkapkan karena orang yang bersangkutan takut dengan ular. Ya benar, sesungguhnya mereka lah yang takut dengan ular. Dan secara tidak sadar, mereka “memakaikan” standar mereka kepada orang lain, yang kebetulan adalah saya.

Inilah yang ingin saya soroti pada tulisan ini, bahwa kita seringkali mengenakan standar kita kepada orang lain. Sadar atau tidak, kita seringkali memandang  orang lain berdasarkan sudut pandang kita. Padahal, setiap orang diciptakan unik, dan untuk memahami orang lain kita harus berusaha memandang orang tersebut dari sudut pandang orang itu sendiri. Memang susah, namun tidak mustahil.

Duc in Altum

Posted in Event on July 18, 2008 by ivanwidyarsa

“Duc in Altum (Bertolaklah ke tempat yang dalam)”

Itulah sabda Yesus kepada Simon Petrus dan kawan-kawannya ketika mereka pertama kali bertemu. Dan sabda itu juga yang menjadi semboyan bagi Mgr. Johannes Pujasumarta dalam tugas penggembalaannya yang baru, menjadi uskup bagi Keuskupan Bandung.

Uskup Bandung terdahulu, Mgr. Alexander Soetandio Djajasiswaja meninggal pada tanggal 19 Januari 2006. Dan telah 2 setengah tahun Keuskupan Bandung tidak memiliki seorang uskup. Namun penantian panjang itu telah membuahkan  sukacita pada hari Rabu, 16 Juli 2008, saat uskup terpilih, Mgr. Johannes Pujasumarta, ditahbiskan menjadi Uskup Bandung.

Misa Tahbisan dilaksanakan di Sasana Budaya Ganesha, sarana pertemuan milik Institut Teknologi Bandung. Misa dimulai pukul 4 sore dan berakhir pukul setengah tujuh malam. Setelah itu acara dilanjutkan dengan ramah tamah. Hadir pula dalam perayaan ini uskup-uskup dari berbagai tempat di Indonesia.

Ada beberapa hal menarik dalam misa ini. Salah satunya, saat selesai komuni, uskup berkeliling untuk memberikan berkat kepada umat. Saat berkeliling, mitra (semacam topi yang dikenakan uskup) bapak Uskup jatuh. Pada acara selanjutnya, yaitu acara sambutan dari beberapa pihak, perwakilan KWI berkelakar bahwa umat keuskupan Bandung dipersilakan untuk mengajukan proposal ke KWI, yaitu proposal untuk melakukan “reboisasi” terhadap kepala Mgr. Pujasumarta, agar di lain kesempatan mitra yang dikenakan tidak jatuh lagi.

Yang tidak kalah menarik adalah saat Mgr. Pujasumarta memberikan sambutan. Beliau memberikan sambutan dalam bahasa Sunda. Karena beliau berasal dari Jawa, tentulah bahasa Sunda yang diucapkan beliau kurang benar dan cukup menggelitik telinga umat yang hadir, sehingga pada beberapa kesempatan umat tertawa terbahak-bahak. Namun usaha bapak Uskup untuk dekat dengan umat gembalaannya patutlah dipuji.

Selamat datang Mgr. Pujasumarta, selamat bertugas, semoga Tuhan selalu menyertai. Amin.

Footprint

Posted in Personal Life on July 8, 2008 by ivanwidyarsa

Footprints are the impressions or images left behind by a person walking (http://en.wikipedia.org/wiki/Footprint).

Nay, this is not an article about that footprint, but another Footprint…

It’s been two months since I adopted a new pet. Talking about pet, we usually think about some cute and funny animals like hamsters, cats, or dogs. But my pet is not any from I mentioned before, but it is  a carpet python (Morelia spilota variegata). It’s name is Footprint. Here’s its photo. Look at the pattern on its head, and you will know where its name come from.

Footprint

Footprint

My experience with snakes started when I was in elementary school. My father’s elder brother worked in a pet shop. I played there when I was on a holiday, and I was introduced that snake is not a bad animal (uhmm…. non-venomous snake of course…). The snake I handled there was albino rat snake (the first snake I handle).

Then more than 10 years passed since then. Until in 2006, a new mall named PVJ (Paris Van Java) was opened in Bandung. The mall a pet shop, and the pet shop sells snakes too. There, I once again experienced snake handling. And from the shopkeeper, I learned (a little) about caring a snake, snake’s prize, and other things. From that point, I plan to keep one as a pet.

Two years has passed. In April 20th 2008, I bought Footprint from Toko Reptil (relocated from PVJ to Giant). It’s not easy to handle it at that moment, It has bitten me once…

Wounded Hand

Wounded Hand

Look at the size of my wound. Its little mouth can open that wide. But it’s okay, the wound didn’t hurt.
Well, that’s old story. Footprint has become a calm and trustworthy pet right now.

Footprint is now sized about 60 cm length (grow about 10 cm in 2 months) and its thickest body is as thick as my middle finger. It eats a mouse once every two weeks. I hope it will always healthy and can live long enough (10 – 15 years).