Sedikit Mengenai Lelucon

Lelucon, berasal dari kata lucu yang diulang, ditambah dengan akhiran -an. Lucu-lucu luruh menjadi lelucu. Lelucu + an menjadi lelucuan, u dan a luruh menjadi o, sehingga menjadi lelucon.

Oke, cukup pelajaran Bahasa Indonesianya (tapi kalo ada sanggahan terhadap statement di atas, boleh-boleh saja kok). Lelucon adalah salah satu bentuk interaksi sosial manusia. Jika beberapa orang berkumpul dalam suasana santai, dapat dipastikan satu atau dua lelucon pasti dilontarkan. Beberapa orang bahkan kehadirannya dinanti-nantikan orang-orang lain hanya karena dia “lucu”, bisa membawakan lelucon-lelucon dengan baik sehingga mencerahkan suasana. Dan beberapa orang lain memiliki nilai lebih di mata orang lain karena dia memiliki “selera humor yang baik”.

Apapun dampak lelucon bagi kehidupan sosial Anda, tujuan dari sebuah lelucon pada hakekatnya hanya satu, yaitu membuat orang lain tertawa.

Media Penyampaian Lelucon

Berkaitan dengan media penyampaian lelucon, hanya hal-hal ini yang perlu saya garisbawahi :
a. Ada lelucon yang hanya lucu jika ia ditampilkan dalam bentuk gambar
b. Ada lelucon yang hanya lucu jika ia diucapkan
c. Ada lelucon yang hanya lucu jika ia dalam bentuk tulisan
d. Ada lelucon yang harus dilakukan dengan gerakan
e. Ada lelucon yang membutuhkan “korban”
Untuk poin a-d, saya anggap sudah jelas (hmmm…. oke, jujur saja, saya malas memberikan contoh). Nah, saya akan menjelaskan poin e, dimana kadang kala sebuah lelucon memang memerlukan “tumbal” untuk dapat membuat orang lain tertawa. Misalkan ada lelucon seperti ini.

“Pada suatu hari, A dan B pergi bersama naik angkot. Pada suatu kesempatan, A mengeluarkan mukanya dari jendela angkot, dan B mengeluarkan pantatnya dari jendela angkot. Dan orang yang melihat mereka menyangka mereka kembar.”

Saat berkumpul dengan teman-teman Anda, coba gantilah A dengan nama teman Anda, dan B dengan Anda, maka lelucon ini akan menjadi lebih lucu. Tetapi jangan sampai salah, jika anda terbalik mengganti A dengan Anda sendiri dan B dengan nama teman Anda, itu namanya bunuh diri. Yah, tapi itu pilihan. Dan memang untuk menghindari sakit hati, terkadang lebih baik “korban” dari lelucon Anda adalah Anda sendiri.

Target : Audience

Pada suatu malam, tiga orang vampir bertemu di sebuah bar. Mereka kemudian unjuk kemampuan. Vampir pertama, dari Amerika berubah menjadi kelelawar, segera terbang pergi dengan kecepatan penuh. Setelah 10 menit dia kembali dengan mulut berlumuran darah. Dia berkata pada teman-temannya “Lihat desa di sebelah sana? Sapinya sudah habis saya santap!”

Vampir kedua, dari Romania, tidak mau kalah. Segera dia berubah menjadi kelelawar, dan pergi juga dengan ngebut. Setelah 5 menit, dia kembali dengan mulut berlumuran darah. Dia lalu berkata pada teman-temannya “Lihat desa di sebelah sana? Penduduknya sudah habis saya santap!”

Vampir ketiga, dari Indonesia, juga tidak mau kalah. Ia (seperti dua vampir sebelumnya) merubah diri juga menjadi kelelawar, dan terbang pergi dengan kecepatan yang tidak kalah dengan dua vampir sebelumnya. Setelah 10 detik, dia sudah kembali dengan mulut berlumuran darah. Dia berkata kepada teman-temannya, “Kalian lihat pohon besar di sebelah sana? Saya tadi tidak lihat…”

Cartoon Vampire

Ini pengalaman pribadi saya (bukan cerita di atas, tapi apa yang akan saya katakan di bawah..). Ketika saya mendengar lelucon di atas, saya langsung tertawa terbahak-bahak.

Di lain kesempatan, pada malam santai di sebuah pelatihan dengan peserta dari LSM-LSM dari seluruh penjuru Indonesia, saya melemparkan lelucon di atas, lelucon yang menurut saya sangat lucu. Namun apa yang terjadi? Selesai saya menceritakan lelucon tersebut, semua hening. Beberapa detik kemudian baru ada yang berkata “Oh, maksudnya nabrak pohon ya..” dan yang lain baru tertawa ringan.

Yah, mungkin cara saya membawakan lelucon tersebut juga masih kurang. Namun ada hal lain yang saya tangkap dari pengalaman tersebut. Lelucon di atas adalah lelucon yang “kelucuan”- nya tidak eksplisit. Anda harus sedikit memutar otak untuk dapat menangkap “kelucuan”- nya. Analisis saya terhadap kejadian malam itu, orang-orang yang berkumpul waktu itu berasal dari taraf pendidikan yang beraneka ragam, dan memang sebagian menurut saya taraf pendidikannya tidak terlalu tinggi. Dan lelucon-lelucon lain yang muncul malam itu adalah lelucon-lelucon yang “kelucuan”-nya eksplisit.

Ada hampir tak terhingga lelucon yang ada di dunia ini. Namun Anda harus pandai-pandai memilih lelucon yang sesuai dengan audience Anda. Banyak hal yang perlu diperhatikan dari audience Anda, misalkan umur, jenis kelamin, dan taraf pendidikan. Bahkan kita juga perlu memperhatikan ras, agama, dan profesi dari audience Anda, karena beberapa lelucon terkait dengan hal itu.

Karena tujuan lelucon adalah membuat audience Anda tertawa, pelajarilah audience Anda sebelum anda melontarkan sebuah lelucon.

Practice Make Perfect

“A dan B membawakan lelucon yang sama. Tapi jika A yang menyampaikan, lelucon tersebut rasanya biasa-biasa saja, tetapi jika B yang menyampaikan, lelucon tersebut menjadi lelucon yang sangat lucu”

Selain isi dari sebuah lelucon itu sendiri, ada hal-hal lain yang dapat memberikan nilai tambah bagi lelucon tersebut. Cara Anda membawakan, ekspresi wajah Anda, suara Anda, sangat mempengaruhi kualitas lelucon yang Anda bawakan.

Seorang teman saya pada waktu kuliah bisa melontarkan lelucon tanpa ekspresi wajahnya berubah sama sekali. Dia tidak akan tertawa sampai lelucon yang ia sampaikan selesai ia sampaikan. Hal ini bagi saya menjadi sebuah nilai tambah. Ketika saya tanya, “Kok bisa sih mukamu tanpa ekspresi begitu?”, dia menjawab “Wah, ini hasil latihan bertahun-tahun waktu jaman SMA”.

Tidak bisa dipungkiri, memang beberapa orang memiliki bakat alami untuk menyampaikan lelucon. Tetapi percayalah, itu semua bisa dilatih. Menceritakan sebuah lelucon tanpa ada seorang pun tertawa selain Anda sendiri sudah pasti bukanlah sebuah pengalaman yang menyenangkan. Tapi teruslah mencoba, setiap kesalahan yang Anda lakukan memberi Anda pelajaran untuk memperbaiki diri Anda. Selamat mencoba terus, dan tetap semangat.

2 Responses to “Sedikit Mengenai Lelucon”

  1. Sebenarnya semua lelucon membutuhkan korban kok, Van. Jadi poin (e) itu absolut. Tapi, korbannya bisa:
    a. Orang lain (dan tidak harus orang, bisa saja institusi, media, kucing, mobil)
    b. Diri sendiri (yang disebut self-deprecating humor)
    c. Situasi, kondisi, kebiasaan di masyarakat

    Mengenai media, sebenarnya humor juga bisa lintas. Jadi pengategoriannya lebih baik ke arah:

    - Humor visual
    Lucunya baru kerasa kalau kita melihat. Bisa jadi bentuknya karikatur. Atau slapstick (slapstick sendiri jangan diremehkan. Sketsa Rowan Atkinson yang susah payah memakai celana renang tanpa membuka celana panjang dulu adalah slapstick, tapi jauh lebih berkelas dibandingkan sekadar orang nginjek kulit pisang dan jatuh). Atau ekspresi wajah maupun gerak-gerik tubuh.

    - Humor kata
    Bisa permainan kata (pun). Bisa juga bermain makna, seperti Seinfeld dan Robin Williams. (“If firefighters fight fire, what do freedom fighters fight?”)

    - Humor situasi
    Tidak akan lucu kalau kita tidak tahu konteksnya. Dua orang teman duduk di bar. Satu orang mengeluh karena kehilangan uang 50 ribu. Temannya berusaha menghibur, mengatakan bahwa uang jangan membuat hidup susah. Lantas berusaha menunjukkan itu dengan cara membakar uang Rp50 ribu di depan temannya. Tahu-tahu, duit temannya itu ketemu, terselip di saku jaket. Teman yang bakar duit balik mengeluh.

    Ini nggak akan lucu kalau kita tidak tahu keseluruhan situasi. Tapi adegan ini bisa ditunjukkan melalui tulisan, cerita, maupun video. Lintas media.

Leave a Reply