Someone : “Van, kamu miara uler ya?”
Ivan : “Iya”
Someone : “Kamu ngga takut?”
Ivan : “Ya ngga lah, kalo takut ngapain gw miara” (sambil ketawa)
Ini adalah cuplikan pembicaraan dengan beberapa orang akhir-akhir ini. Beberapa di sini berarti tiga orang atau lebih. Dan semuanya secara garis besar menanyakan hal yang sama, dan saya juga menjawab dengan jawaban yang sama.
Hal ini cukup menarik, karena (menurut saya) pertanyaan tersebut tidak logis. Jika Anda takut anjing, akankah Anda memelihara anjing? Demikian juga dengan ular, kalo saya takut ular, saya tidak akan memelihara ular. Sebuah logika yang cukup mudah bukan? Nah karena itu, jangan pernah berharap seorang Michael Ivan Widyarsa memelihara ayam.
Tapi, kenapa beberapa orang masih menanyakan hal itu?
Menurut saya, pertanyaan tersebut adalah pertanyaan spontan, yang diungkapkan karena orang yang bersangkutan takut dengan ular. Ya benar, sesungguhnya mereka lah yang takut dengan ular. Dan secara tidak sadar, mereka “memakaikan” standar mereka kepada orang lain, yang kebetulan adalah saya.
Inilah yang ingin saya soroti pada tulisan ini, bahwa kita seringkali mengenakan standar kita kepada orang lain. Sadar atau tidak, kita seringkali memandang orang lain berdasarkan sudut pandang kita. Padahal, setiap orang diciptakan unik, dan untuk memahami orang lain kita harus berusaha memandang orang tersebut dari sudut pandang orang itu sendiri. Memang susah, namun tidak mustahil.